Jejak Estetika Islam dalam Liturgi Katolik: Pesona Karpet Persia di Lantai Basilika
Penggunaan karpet Persia dalam ritual sakral Vatikan mungkin tampak anomali di mata masyarakat awam yang hanya melihat perbedaan teologis. Namun, di mata sejarah, kehadiran tekstil dari dunia Islam di jantung kekristenan adalah manifestasi dari dialog peradaban yang telah mengakar selama lebih dari enam abad.
Warisan yang Melintasi Zaman
Karpet tersebut berasal dari wilayah barat laut Iran, sebuah daerah yang dikenal sebagai jantung kerajinan tenun dunia. Menariknya, penggunaan karpet dari "Dunia Timur" ini bukanlah sebuah inovasi baru atau kebetulan semata.
Upacara Pemakaman Paus Fransiskus. Sumber: Pinterest
Penggunaannya dalam prosesi pemakaman Paus bukanlah hal baru. Menurut catatan The Art Newspaper, Vatikan secara konsisten menggunakan karpet yang sama dalam prosesi pemakaman Paus, seperti Paus Yohanes Paulus II tahun 2005 dan Paus Benediktus XVI tahun 2023. Hal ini menegaskan bahwa dalam tradisi liturgi Katolik, karpet Persia telah naik kasta dari sekadar barang komoditas menjadi elemen penting dalam tata cara penghormatan terakhir para pemimpin utama gereja.
Kesaksian yang Tertuang di Kanvas
Dari ritual sakral hingga penggambaran artistik, karpet Turki dan Iran menempati posisi istimewa dalam tradisi Katolik. Tercatat sejak abad ke-14, karpet yang diimpor dari wilayah Islam seperti Anatolia, Levant, Mesir, dan Iran menjadi salah satu barang paling mewah dan diminati. Status istimewa ini terlihat jelas dalam ritual kepausan dan banyak diabadikan dalam seni lukis bertemakan religius. Selain itu, karpet dengan motif serupa sering digambarkan berada di kaki tokoh-tokoh penting Kristen, termasuk Bunda Maria.
Sebagai contoh, penggunaan karpet Anatolia dalam karya Andrea del Verrocchio berjudul Piazza Madonna (1486) yang menggambarkan Bunda Maria dan seorang bayi berpijak di atasnya. Karpet tersebut menciptakan area suci sekaligus menunjukkan kedekatan figur-figur di sekitarnya.
Dilansir dari National Geographic Indonesia, pengaturan posisi figur dalam lukisan tersebut menunjukkan hierarki kesucian; St. John (sebelah kiri Bunda Maria) menapakkan seluruh kakinya di perbatasan karpet, sementara Donato de’ Medici (sebelah kanan Bunda Maria) hanya menyentuhkan ujung jarinya. Pola interaksi ini serupa dengan posisi dua anggota Garda Swiss yang berdiri di pinggiran karpet saat menjaga peti Paus Fransiskus di kapel pribadinya tahun lalu.
Beberapa pelukis seperti Hans Holbein dan Lorenzo Lotto sangat sering melukis karpet oriental ini dengan detail yang luar biasa, sehingga para sejarawan seni menciptakan istilah "Holbein carpets" atau "Lotto carpets”. Dalam konteks ini, estetika Islam bukan menjadi elemen asing, tetapi hadir sebagai bagian dari bahasa visual Kristen Eropa.
Arus Perdagangan dan Hadiah Diplomasi
Pada abad ke-16, karpet dari dunia Islam mulai masuk ke Eropa dalam jumlah yang semakin banyak, hadir sebagai barang dagangan, pesanan langsung, dan terkadang sebagai barang paling mewah sebagai hadiah diplomasi. Karpet dari wilayah Ottoman mendominasi perdagangan pada abad ini. Memasuki abad ke-17, pasar Eropa mulai dibanjiri karpet dari Safavid, Iran dan Mughal, India.
Tradisi pemberian hadiah diplomasi ini masih bertahan hingga era modern. Laman The Art Newspaper mencatat bahwa saat Presiden Iran, Hassan Rouhani, bertemu Paus Fransiskus di Vatikan pada 2016, ia membawakan hadiah berupa karpet kecil yang ditenun di Qom (barat daya Teheran, Iran).
Detail Karpet Persia dalam Upacara Pemakaman
Selama rangkaian pemakaman Paus Fransiskus yang berlangsung dalam beberapa tahap, terdapat tiga karpet Persia yang digunakan pada momen tersebut: ketika di kapel pribadi Paus Fransiskus, saat penghormatan publik di Basilika Santo Petrus, dan di Lapangan Santo Petrus yang digunakan selama misa pemakaman.
Menurut Ade S, seorang Reporter National Geographic Indonesia, keputusan Paus Fransiskus pada akhir 2024 untuk menyederhanakan protokol pemakaman (dengan menghapus penggunaan tiga lapis peti dari kayu cemara, timah, dan ek) justru membuat kehadiran karpet Persia ini menjadi lebih signifikan secara simbolis. Ketika peti kayu sederhana diletakkan rendah—hampir sejajar dengan lantai—kontras visual antara tekstur kayu dan kerumitan motif karpet Heriz mempertegas citra "tanah suci".
Estetika Sebagai Bahasa Universal
Kehadiran karpet Persia di bawah peti kayu Paus Fransiskus adalah sebuah pesan bisu tentang pluralisme. Di tengah dunia yang sering terpolarisasi oleh sentimen agama dan batas geopolitik, seni menunjukkan kemampuannya untuk melampaui segala sekat. l
Estetika timur—dalam hal ini peradaban Islam—yang menjadi roda penggerak persebarannya di dunia barat, tidaklah dianggap sebagai ancaman bagi liturgi Katolik, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap keindahan, bahkan kesucian. Karpet-karpet tersebut adalah saksi bisu bahwa antara Timur dan Barat (Islam dan Kristen), terdapat benang-benang sejarah yang saling terkait. Ia ditenun menjadi satu dalam hamparan bahasa keindahan yang universal.
Redaktur: Muhamad Ziyan Al Faikar
Editor: Maspud Aripin
Posting Komentar