El-Matareya; Warisan Sejarah dan Tradisi 15 Ramadan

              sumber: ask-aladdin.com


    El-Matareya adalah sebuah distrik di wilayah Kairo Timur. Distrik ini menyimpan reruntuhan kota Mesir kuno, Heliopolis, salah satu kota tertua di Mesir. Kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama, tempat berdirinya banyak kuil besar, juga pusat pemujaan Dewa Matahari pada zaman itu. Banyak orang Mesir mengatakan bahwa El-Matareya merupakan tempat paling tua di Kairo, karena wilayah ini sudah dihuni sejak zaman kota kuno Heliopolis sekitar 3000 tahun lebih.

    El-Matareya berasal dari kata "المطارية" yang berkaitan dengan air hujan, tempat yang memiliki air, dan mata air/sumber air. Pada masa lalu, daerah ini dikenal sebagai tempat yang memiliki sumber air alami. Air di daerah ini sangat penting karena wilayah Kairo Timur pada zaman dahulu relatif kering. Beberapa orang mengartikan bahwa kata ‘Matareya’ berasal dari kata latin “mater” yang berarti ibu, sebagai penghormatan kepada bunda Maria yang pernah singgah di sana.

    El-Matareya menyimpan warisan sejarah tentang Mesir kuno yang sangat mengagumkan. Dua warisan sejarah yang sangat terkenal antara lain Tree of The Virgin Mary (Shagaret Maryam), sebuah pohon yang berkaitan dengan perjalanan kudus (Maryam, Yusuf, dan bayi Isa) ketika mereka melarikan diri ke Mesir untuk menghindari kejaran Raja Herodes.


                           
               Sumber: en.majalla.com              
                                      
    Kristen Koptik percaya bahwa pada zaman dahulu, bunda Maria bersandar di bawah sebuah pohon Sycamore di Matareya. Kemudian sebuah mata air muncul di dekatnya, sehingga air tersebut dapat digunakan untuk membasuh bayi Yesus. Orang-orang Kristen Koptik juga seringkali mengambil kulit dari pohon tersebut, karena dianggap memiliki khasiat dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Pohon yang ada sekarang bukanlah pohon sama dengan zaman dahulu karena telah tumbang pada tahun 1656 M. Namun tunasnya masih tersisa dan terus tumbuh hingga sekarang, sehingga pohon itu tetap ada dan menjadi tempat ziarah bagi umat Kristen Koptik selama berabad-abad.

    Warisan sejarah kedua yang tak kalah memukau adalah Obelisk of Senusret I (Al-Masalla Obelisk). Obelisk adalah sebuah monumen batu yang tinggi, ramping, dan memiliki 4 sisi yang mengerucut ke atas, ditutup dengan bentuk piramida kecil di puncaknya yang disebut Pyramidion. Batu tersebut terbuat dari granit merah utuh (monolith) dengan tinggi mencapai 21 meter dan beratnya sekitar 120 ton. Obelisk ini dibangun oleh Firaun Senusret I dari dinasti ke-12 sekitar tahun 1900 sebelum masehi.


           Sumber: egypt-museum.com
                                                           
    Pada permukaan Obelisk, terdapat Hieroglif (sistem tulisan formal yang digunakan oleh bangsa Mesir kuno) yang berisi pujian atas kekuasaan dan prestasi Firaun Senusret I. Obelisk ini berdiri di kuil Re-Atum, pusat pemujaan matahari di Heliopolis. Hal yang paling menawan adalah obelisk ini termasuk obelisk tertua di dunia yang masih berdiri tegak di lokasi aslinya dengan umur sekitar 4000 tahun. Sedangkan obelisk lainnya, banyak dibawa oleh bangsa Romawi ke Italia atau dihadiahkan ke negara lain.

    Obelisk of Senusret I memiliki beberapa fungsi menarik. Pertama, Obelisk menjadi simbol religius pemujaan Dewa Matahari. Obelisk merepresentasikan fisik dari sinar matahari yang membeku. Ujungnya yang lancip dahulu dilapisi logam mulia agar dapat memantulkan sinar matahari, sehingga melambangkan kehadiran Dewa Matahari yang menyinari dunia.

    Fungsi kedua, Obelisk Sebagai penanda gerbang kuil. Ia berfungsi memandu peziarah untuk masuk ke pintu suci kuil Re-Atum dan menandakan pula bahwa area tersebut termasuk area yang suci.

    Ketiga untuk perayaan Festival Sed atau Peringatan “Heb Sed” (Yubileum Raja), ini adalah upacara terbesar yang dilakukan setelah Firaun memerintah selama 30 tahun. Fungsinya sebagai monumen yang menunjukkan kekuatan dan keberhasilan pemerintahan Senusret I kepada rakyat dan para dewa.

    Keempat sebagai penunjuk waktu karena bentuknya yang panjang dan ramping. Bayangan yang jatuh di tanah digunakan oleh para pendeta Heliopolis untuk menghitung pergerakan matahari, menentukan waktu ibadah, hingga menandai pergantian musim.

 

    El-Matareya bukan hanya warisan sejarah murni Mesir kuno, namun juga representasi kebersamaan, kedermawanan, dan solidaritas yang kuat. Hal ini digambarkan pada tradisi buka puasa dengan meja terpanjang pada bulan Ramadan yang menjadi fenomena global beberapa tahun terakhir. Buka puasa ini tidak hanya diisi oleh penduduk El-Matareya, tapi seluruh warga dari penjuru Kairo datang untuk menikmati suguhan istimewa secara gratis di sana.

    Tradisi ini dimulai sekitar tahun 2013 oleh sekelompok pemuda El-Matareya. Awalnya hanya meja kecil untuk tetangga, namun semakin lama semakin besar dan menjadi hal yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di penjuru Kairo. Buka puasa ini diadakan pada tanggal 15 Ramadan setiap tahunnya, dengan ciri khas meja yang dibentangkan sepanjang jalan utama di El-Matareya, yang mana panjangnya bisa lebih dari 1 kilometer. Saat hari itu tiba, El-Matareya berubah menjadi seperti festival Ramadan. Jalannya dihiasi oleh lampu dan dekorasi Ramadan, senandung musik terus mengiringi, suasana sangat meriah, hingga menarik pendatang asing dan banyak media meliput kegiatan tersebut.

    Yang paling menyentuh dari tradisi ini adalah seluruh warga El-Matareya bergotong royong untuk menyiapkan kegiatan tersebut. Mulai dari patungan berbulan-bulan sebelum Ramadan untuk membeli bahan makanan, para ibu yang memasak ribuan porsi makanan di dapur rumah mereka, dan hiasan-hiasan di seluruh jalanan yang dibuat sendiri oleh warganya.

    Banyak orang menyebut El-Matareya saat Ramadan sebagai “Jantung Mesir yang Sebenarnya” atau “The Spirit of Egypt” karena di tengah hiruk pikuk Kairo, tradisi ini membuktikan bahwa semangat berbagi dan solidaritas kebersamaan masih kuat dan harus terus dilakukan terlepas dari kesulitan ekonomi atau perbedaan latar belakang. Maka dari itu, tak salah jika slogan "رمضان في مصر حاجة ثانية" berkumandang di negara Mesir setiap tahunnya. Karena slogan tersebut benar-benar menggambarkan bulan Ramadan di Mesir sangat unik dan berbeda daripada yang lainnya.

 Redaktur : Arifatun Nisa Birizqil Adhim

Editor : Zadjuria Rizky

Posting Komentar

To Top