Peluncuran dan Bedah Buku Art Theis de Cairo

Sabtu, 14 Februari 2026 merupakan malam besar bagi kawan-kawan Art Theis yang mencoba mengabadikan Kairo pada kumpulan puisi dan cerpen mereka. Peluncuran buku mereka yang berjudul "Panduan Menghuni Kairo" dan "Alkisah & Lainnya" bertempat di Kafe Zone, Gamaliya. Bedah buku tersebut dimulai pukul 19.40 WLK oleh Erick, selaku madurator (moderator dari Madura).

Acara bedah buku dibuka dengan deklamasi dua puisi berjudul "Rintihan Suara" dan "Membayangkan Ahmad Urabi sebagai Penyair Urabi" yang digemakan apik oleh M. Ahsan Darul Fitrah. Pembedah buku puisi adalah M. Syamsul Arifin sedangkan buku cerpen adalah M. Husni Nasution. Mereka merupakan dua perwira sastra dari Rumah Budaya Akar Kairo.S

Pemaparan Pertama: Buku "Panduan Menghuni Kairo"

Kata 'panduan' yang dikehendaki penulis dalam buku ini bukan layaknya panduan atau prosedur untuk melakukan sesuatu secara umum. Azmil, salah satu penulis dari kumpulan puisi itu menyampaikan alasan dalam pemilihan diksi 'menghuni' alih-alih 'tinggal' pada judul buku mereka. Sebab 'menghuni' berbeda dengan 'tinggal'. Kata 'tinggal' hanyalah fisik, sedangkan 'menghuni' memiliki keterhubungan objek atau manusia dengan tempat ia tinggal.

Kemudian disahut oleh Daffa, juga salah satu dari penulis puisi tersebut, bahwa para penulis hanya berusaha untuk merakit kembali ingatan akan pengalaman mereka—yang mempunyai keterkaitan batin dengan Kairo— atau justru sebagai pekerjaan eksperimental dalam menciptakan sendiri pengalaman-pengalaman itu sesuai dengan ciri khas masing-masing tiap penulis.

M. Syamsul Arifin berkata, "Kita kumpul di sini akan membedah buku puisi. 'Panduan Menghuni Kairo' memang paling tepat untuk menjadi judul puisi karena kita akan diajak benar-benar masuk dan tinggal di dunia Kairo lewat fantasi dan imajinasi penulis. Ketika kita membedah puisi atau karya sastra lewat kritik maupun teori, sastra itu sama sekali tidak bisa terlepas dari filsafat bahasa. Dunia sastra adalah titik tolak terpenting dalam mengenal filsafat, bahkan merupakan strata tertinggi dari disiplin untuk memahami segala sesuatu." Sebelum masuk dalam bedah karya, dengan sekilas awal ia menceritakan pengembaraan intelektualnya pada filsafat yang ia mulai dengan sastra.

Ia menyebutkan istilah 'kritik' memang lebih fundamental sebagai penilaian terhadap sastra, bukan malah menjelekkan karya. Penyampaiannya dibungkus santai sembari mengajak audiens untuk bersama memahami dan mengilhami puisi bukan dari teori-teori yang rumit tapi langsung pengaplikasian dalam sebuah karya. Dengan mengangkat teori kritik atau mode pembacaan dari bukunya Lois Tyson yang berjudul "Critical Theory Today" yaitu reader response criticism—kritik yang berorientasi pada respon pembaca.

Ada dua dari empat varian anak teori yang ia sebutkan. Pertama, transactional reader response theory. Teori ini akan mengantarkan kita kepada transaksi antara teks dengan pembaca. Transaksi tersebut tidak terbatas pada modus yang hanya ingin memproduksi mencari informasi, melainkan modus estetik yang secara tidak langsung kita merasakan hubungan personal dengan teks.

Mode pembacaan yang kedua ialah subjective reader response theory, yang justru mendahului segala teori sastra dan sebagai gerbang awal kita sebelum menjarah teori-teori di atasnya. Melalui teori ini, beliau lebih mengedepankan relevansi suatu karya sastra dengan makna yang diciptakan oleh interpretasi pembaca. Kekayaan atau kemiskinan makna suatu sastra kembali pada kualitas perasaan pembaca sastra itu sendiri. Kedua teori berhasil disampaikan pembedah dengan sangat mendetail dan mengesankan.


Pemaparan Kedua: Buku "Alkisah & Lainnya"

Sama seperti sebelumnya, sesi kedua juga dibuka dengan gemuruh monolog yang tidak kalah menggelegar dari salah satu cerpen berjudul "Lemari Kepala-kepala dan Tangan-tangan" yang dibacakan dengan lantang oleh M. Ali Jadul Haqq. Pembacaan monolog tersebut seketika menyatukan dingin dengan isi cerita tanpa takut memecahkan suasana.

Dengan menghadirkan salah satu penulis dari antologi cerpen tersebut, Achmad Ibnu Ibad menyampaikan alasan pemilihan judul buku tersebut. Alasannya yaitu karena mereka berusaha menceritakan alkisah atau hal-hal yang umum dan sudah diketahui para pembaca sebelumya dengan narasi-narasi yang baru dan sudut pandang yang terlupakan.

Husni Nasution, pembedah cerpen, menyatakan bahwa, “sebelum sampai kepada sebuah cerpen, puisi, atau apapun bentuknya, kesadaran estetika menjadi satu dorongan khusus yang bisa merangkum semua jenis gejolak sastra. Dengan kesadaran tersebut akan menghasilkan visi estetika yang ingin penulis bangun. Tetapi, emosi yang ingin kita sampaikan dalam cerpen jelas tidak sama dengan puisi atau lainnya.”

Ia pun berangkat dengan mengupas cerpen oleh Ahmad berjudul “Alkisah Kursi Goyang” cerpen pertama sekaligus mukaddimah Alkisah yang menghabiskan halaman paling banyak dalam buku ini, Dalam kritiknya kali ini, yang lebih ia tekankan adalah pada struktur naratif sebuah cerpen. Dengan insting editorialnya yang makin menggebu, ia menyatakan bahwa penulis di sini terlalu banyak memunculkan latar belakang dalam satu cerita yang dapat membuat pembaca cenderung kebingungan, dengan minimnya observasi yang dimiliki.

Di balik kesuksesan Art Theis dalam perayaan sastra di kalangan masisir yang terhitung jarang sekali, tirakat penulis masih dianggap belum benar-benar berhasil dalam menemukan konseptualisasi atau korelisasi apapun dari cerita zaman kuno dengan cerita hari ini, selain hanya mengulik klaim yang dijabarkan pada halaman pengantar. Di sini Husni benar-benar menguliti dan memutilasi dengan tajam satu dua celah dari penulis. Cukup menikam kedengarannya, tapi nyatanya meneduhkan.

Di penghujung acara, setelah sesi pembedahan cerpen selesai, para kawan Art Theis tidak segan memberikan ruang bebas bagi semua yang hadir untuk menanggapi, bertanya, melucuti, atau sekadar mengapresiasi. Meskipun para pembedah cukup berhasil memberikan lumuran darah di arena bunuh diri itu bagi para penulis, hal tersebut tidak membuat semangat para Art Theis semakin punah dalam ibadah menulisnya.

Redaktur: Najwa Hilya
Editor: Zadjuria Rizky

Posting Komentar

To Top