Hikayat Secangkir Teh *

Ilustrator : Izzuddin Zhafir Satyananda

Sore itu, Kairo begitu panas seperti sedang meluapkan amarahnya. Empat puluh tiga derajat celsius, suhu yang mustahil didapati di Indonesia. Sialnya, aku tertipu oleh cuaca sore ini. Kupikir bakda Asar panas akan menurun. Ternyata, malah naik hingga pukul lima sore. Aku yang sudah terlanjur keluar rumah dan basah oleh deras peluh, memilih untuk melipir berteduh di salah satu kedai kopi bernama Hikayat.

Kedai itu sederhana sekali. Beratapkan seng berkarat, kursi dan mejanya berdenyit reyot, menu yang tersedia pun hanya tiga varian: syai, ahwa, dan shisha. Tak lupa TV tabung hitam-putih yang selalu memutar sinetron Mesir menambah kesederhanaan kedai ini. Meski beratapkan seng, untungnya, kedai ini dinaungi oleh pohon rimbun yang menjadikannya cukup sejuk untuk berteduh.

Kupandangi pelanggan yang ada di kedai ini. Wajah-wajah keriput dengan jenggot dan sungut yang memutih dan rambut yang tersisa beberapa helai, memenuhi seisi kedai. Selepas memesan secangkir syai dengan gula mazhbuth, aku beranjak mencari tempat duduk di sudut terdekat dengan pohon. Tampak ada satu kursi kosong berhadapan dengan seorang kakek bertopi koboi yang tengah menatap kosong jalanan. Kepulan uap dari cangkir syai menyentuh janggut panjangnya. Tak banyak pikir, aku langsung berjalan menuju kursi kosong itu. Seusai memberi salam, aku meminta izin untuk duduk semeja dengannya.

"Tafadhal, Yabni Andunisi," ujarnya mempersilakan. Sebab perawakanku sangat Indonesia, ia mudah saja mengenali asalku. Sembari menunggu pesanan tiba, aku berbincang banyak hal dengan kakek itu. Mulai dari namanya, kampungnya, keluarganya, pekerjaannya, hingga impian-impiannya.

Namanya 'Ammu Thariq, asalnya dari Sha'id, Mesir bagian selatan. Ia hidup sebatang kara di Kairo, istrinya meninggal muda saat Inggris masih menjajah Mesir. Saking cinta dengan istrinya, ia tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi hingga sekarang usianya hampir menyentuh satu abad. Saat hendak menanyakan pekerjaannya, pesananku tiba, secangkir syai yang uapnya mengepul ke udara. Sekelebat aku langsung teringat kembali rasa penasaranku sejak dulu akan suatu hal, kenapa orang Mesir di musim panas tetap suka minum teh panas? Kenapa tidak minum es teh?

Pertanyaan itu kusodorkan pada kakek. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Giginya yang ompong membuat suasana makin jenaka.

"Yabni, di Mesir tak ada istilah es teh. Panas pada teh sudah menjadi identitas dari teh itu sendiri," terangnya, kemudian ia menyesap tehnya.

"Terus, mengapa orang Mesir panas-panas gini tetap minum teh panas, 'Ammu? Apa enggak makin kepanasan?" tanyaku meminta jawaban lebih lanjut.
 
"Kamu ini aneh, bertanya demikian tapi malah ikut-ikutan minum teh panas sepertiku." Kelakar 'Ammu Thariq makin menjadi-jadi. Ia terkekeh-kekeh hingga batuk-batuk. Aku tak heran, orang Mesir memang terkenal gemar berkelakar. Aku lekas menepuk-nepuk pundaknya. "Ya, aku, kan, cuma mencoba berbaur dengan budaya Mesir yang aneh ini, 'Ammu," jawabku sambil meledek. "Aslinya aku lebih suka minum es teh. Tapi sayangnya enggak dijual di sini." Batuk 'Ammu Thariq mulai mereda setelah menarik napas dalam-dalam. Ia lalu menjabarkan dalil untuk menjawab rasa penasaranku.

"Yabni, dalam secangkir teh panas ini terdapat banyak sekali hikmah dan faidah," tukasnya sambil menyeruput teh yang sisa setengah cangkir.

"Di antara hikmahnya adalah, ia mengajarkan kesabaran jika ingin mendapatkan kenikmatan. Di tengah dunia yang semakin terburu-buru ini, ia juga memberi jeda untuk kita agar duduk sejenak, menunggu, meresapi, mensyukuri detik demi detik yang Tuhan berikan." Kali ini wajah 'Ammu Thariq benar-benar serius. Sangat berbeda dengan di awal obrolan tadi. Aku mengangguk, mengiyakan setiap hikmah yang dituturkan olehnya.

"Kalau faidahnya apa, 'Ammu?" lanjutku makin penasaran.

"Tubuh hasil ciptaan Tuhan ini pintar, Yabni. Kalau kamu kasih dia panas, ia akan mengeluarkan keringat lebih banyak untuk mendinginkan dirinya sendiri. Keringat itu, kalau kering diterpa angin, membawa serta panas dari badanmu. Tapi kalau kamu kasih dingin, tubuhmu tertipu, ia kira sudah cukup sejuk, padahal panasnya masih terkurung di dalam," terangnya membuatku terkagum. Ternyata di balik budaya yang kuanggap aneh itu, tersimpan rahasia yang luar biasa.

Rasa penasaranku selama ini terjawab sudah. Namun, masih ada satu hal lagi yang tiba-tiba muncul mengganjal pikiranku. Bekas jahitan di pipinya. Aku memandanginya lama. 'Ammu Thariq menyadari pandanganku yang tertahan di sana. Ia tidak menoleh, justru membiarkanku melihatnya jelas.

"Luka ini kudapat waktu aku seusiamu." Suara seraknya memelan, raut wajahnya serius. "Waktu itu Inggris masih menjajah Mesir. Aku ikut bergerilya melawan penjajah. Suatu waktu, baku tembak terjadi. Inggris dengan alutsistanya membabi buta. Kami terdesak. Mayat-mayat pejuang yang bergelimpangan membuatku semakin tersesak. Saat itu, pikiranku hanya tertuju pada istri dan anakku yang masih dalam kandungan. Aku berlari dan terus berlari, menghindari hujan peluru. Pecahan kaca dari jendela toko yang hancur menusuk pipiku. Untungnya aku berhasil berlindung ke terowongan bawah tanah milik para pejuang." 'Ammu Thariq terdiam sejenak, menghela napas. Menatap uap yang mengudara dari cangkir di genggamannya.

"Istriku, Amira, waktu itu masih menungguku di rumah. Ia perempuan Sha'id yang keras kepala. Sudah kubilang jangan ikut-ikutan turun ke jalan, tapi ia tetap kekeh meskipun sedang mengandung. 'Bagaimana bisa diam melihat tanah air sendiri sedang diinjak-injak penjajah?' tegasnya. 'Aku tak ingin anakku lahir dalam keadaan negeri ini masih terjajah!' Itu kata-kata terakhir darinya yang kudengar dan akan kuingat sampai kapan pun."

Aku tertunduk, tak berani menyela. Kupikir, biarkan ia bercerita sampai tuntas dahulu.
 
"Waktu itu aku benci segala yang berbau mereka. Bahasa mereka, pakaian mereka, apalagi teh ini yang mereka bawa dengan kesombongan mereka." Ia menunjuk cangkir teh di depannya. "Aku sempat bersumpah tak akan pernah menyentuhnya seumur hidup. Rasanya, seperti meminum darah perjuangan bangsa sendiri," pungkasnya berapi-api.

"Tapi, mengapa teh yang dibawa penjajah itu kini malah seperti menjadi bagian dari masyarakat Mesir sendiri, 'Ammu?" tanyaku pelan, hampir berbisik.

Ia tersenyum. Raut wajahnya kembali ramah.

"Karena suatu hari, setelah negeri ini merdeka, aku duduk sendirian, seperti sekarang ini. Aku pikir, kalau aku terus membenci teh, sama saja aku membiarkan mereka menang dua kali. Sekali merampas tanah kami, sekali lagi merampas kebiasaan kecil yang sebenarnya sudah jadi bagian hidup rakyat kami sendiri, rakyat kecil yang dulu memilih teh karena tak sanggup beli kopi mahal. Jadi kuputuskan, aku akan minum ini bukan sebagai peniru tuannya, tapi sebagai orang merdeka yang merebut kembali apa yang tersisa, menjadikannya sepenuhnya milikku, milik kami." 'Ammu Thariq menghela napas panjang. Matanya menerawang ke jalanan yang mulai temaram.

"Butuh waktu bertahun-tahun bagiku sampai bisa duduk tenang seperti ini sambil minum teh, Yabni. Dulu, setiap kali melihat orang minum teh, dadaku sesak. Rasanya seperti melihat saudara sendiri berdamai dengan musuh. Aku sempat menjauh dari kedai-kedai seperti ini bertahun-tahun, memilih minum air putih saja, meski tenggorokanku sendiri menolak." Ia tertawa kecil, tawa yang getir sekaligus lega.

"Tapi manusia tak bisa terus-terusan hidup dalam kebencian. Suatu sore, seorang sahabat veteran mengajakku duduk di kedai seperti ini, memaksaku memesan teh. Aku menolak berkali-kali. Tapi ia bilang, 'Thariq, kau kira dengan membenci teh ini, Amira akan hidup kembali? Kau kira Inggris peduli kau minum apa?' Kata-kata itu seperti tamparan bagiku. Aku sadar, kebencianku selama ini tak melukai siapa-siapa selain diriku sendiri." Suaranya kali ini kembali seperti saat menjabarkan hikmah dan faidah dari teh tadi.

"Sejak saat itu, setiap kali aku minum teh, aku anggap sebagai upacara kecil. Bukan tunduk pada masa lalu, tapi menaklukkannya pelan-pelan dalam setiap tegukan." Ia menatapku lekat. "Itulah kenapa aku duduk di sini setiap sore, Yabni, menatap jalanan ini. Bukan karena aku meratapi masa lalu. Tapi karena aku ingin terus mengingatkan diriku sendiri, bahwa aku sudah benar-benar menang, bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan cara memilih apa yang bisa kumanfaatkan dan apa yang mesti kubuang dari mereka yang pernah menjajah kami." Aku menyesap tehku sendiri. Kubiarkan kalimat itu mengendap, seperti daun teh yang telah meresap ke dalam air panas di cangkirku.

Pikiranku melayang jauh ke tanah kelahiran sendiri. Kebun-kebun kopi dan teh yang menghijau di dataran tinggi Jawa dan Sumatra, yang selama ini kubanggakan sebagai kekayaan alam Indonesia, ternyata juga lahir dari sejarah yang tak sepenuhnya manis. Dulu, penjajah Belanda memaksa rakyat menanamnya lewat tanam paksa, memeras keringat dan darah petani demi keuntungan mereka. Tapi dari luka sejarah itulah tumbuh sesuatu yang kini jadi kebanggaan bangsa. Kopi Indonesia yang harum namanya sampai ke meja-meja kafe dunia, teh yang menghangatkan setiap rumah tangga dari Sabang sampai Merauke. Sesuatu yang dulu dipaksakan tangan penjajah, kini disuburkan oleh keringat dan perjuangan rakyat sendiri, diseduh ulang jadi identitas, dimaknai kembali, bukan lagi diratapi sebagai luka.
***
Gema azan magrib mulai terdengar di langit Kairo. 'Ammu Thariq bangkit, menepuk pundakku dengan tangannya yang kasar, namun hangat. Ia kemudian berjalan menembus kerumunan, meninggalkanku sendirian dengan secangkir teh yang perlahan mendingin. Aku tak pernah menyangka, dari secangkir teh yang kerap dianggap sekadar minuman murahan, terdapat sebuah kisah perjuangan yang begitu mewah. Barangkali memang layak sekali kedai ini diberi nama “Hikayat”. Sebab pada setiap cangkir teh atau kopi yang disuguhkan pasti selalu menyimpan kisahnya sendiri.

Oleh : Miftah Fayiz Mubarok


* Tulisan ini adalah pemenang Lomba Tulis Himmatuna dalam gelaran acara Rahmana 2026



Posting Komentar

To Top