Tiga Kandidat Kompak Saling Lempar Afirmasi dalam Arena Debat

Musyawarah Besar Himmah RAM (MBAH) merupakan salah satu agenda tahunan almamater Himmah RAM. Agenda tahunan ini dimulai sejak delapan tahun yang lalu. Artinya, tahun ini merupakan MBAH yang ke-VIII. Dalam setiap pagelarannya, agenda MBAH memiliki dua agenda utama, yaitu laporan pertanggungjawaban (LPJ) kinerja dewan pengurus dan ajang demokrasi bagi anggota Himmah RAM dalam menentukan tampuk kepemimpinan selanjutnya.

Namun, sebelum agenda pemilihan ketua baru dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober mendatang, para calon ketua harus menghadapi uji kelayakan terlebih dahulu melalui “Debat Kandidat Ketua Himmah RAM Periode 2026-2027”. Agenda ini dilaksanakan pada Senin, 10 Oktober 2026, bertempat di Aula Griya KSW, Hay Asyir. 

Debat kandidat ketua ketua inilah yang menjadi arena pertaruhan berlumur darah dalam melucuti gagasan dari setiap kandidat ketua terpilih. Pada awalnya, terdapat empat calon ketua yang siap menyambut babak baru tahun ini. Mereka berempat diusung berdasarkan hasil survei terbanyak dari anggota Himmah RAM. Keempatnya adalah Maspud Aripin, Miftah Huda Pratama, Achmad Idris, dan Muhammad Husni Zauhari.

Namun, salah satu bakal calon terpilih, yaitu Maspud Aripin, harus dinyatakan gugur menjadi kandidat ketua karena terpilih menjadi pimpinan umum di salah satu media massa beberapa hari sebelumnya. Memperhatikan Anggaran Rumah Tangga (ART) Himmah RAM bab IX Pasal 18 ayat 1, ketua Himmah RAM dilarang merangkap jabatan. Oleh karena itu, Maspud dinyatakan gugur secara otomatis dalam ajang pemilihan nahkoda baru ‘bahtera’ Himmah RAM. Kemudian, tersisa tiga kandidat lainnya yang meneruskan perjalanan pencarian ‘imam’ baru Himmah RAM dalam tahap debat kandidat ketua. 

Ada yang berbeda dari agenda debat kandidat kali ini. Panitia MBAH VIII menghadirkan satu formula baru untuk menguji integritas para calon, yaitu sesi pertanyaan bahasa Ammiyah. “Setelah menimbang-nimbang, rasanya memang perlu (mengadakan sesi pertanyaan bahasa Ammiyah) dan tidak ada salahnya. Toh, di debat, kan, kita menguji integritas (calon ketua) sekaligus juga ingin tahu seberapa fasih mereka dalam berinteraksi dan menanggulangi masalah yang melibatkan orang Mesir,” terang Gilang, Koordinator KPU MBAH VIII. 

Debat yang dibayangkan menjadi ruang bebas para calon dalam menelanjangi gagasan, beralih menjadi ruang saling lempar afirmasi. Masing-masing calon rupanya kompak mengedepankan prinsip kekeluargaan dalam ajang kali ini. Beberapa candaan pun tak jarang dilontarkan oleh setiap calon dan berhasil mengundang gelak tawa anggota. Sehingga debat kandidat berlangsung ramai, riang, dan gembira. 

Para calon dianggap main aman dengan menjadikan debat kandidat sebagai ajang yang kalem nan santai. “Ini bukan uji integritas, tapi loyalitas. Meski begitu, di situ kita bisa melihat, mereka semua sudah menjadi diri mereka sendiri. Kalau yang diharapkan yang terbaik, ya, itulah persembahan terbaik dari mereka. Apa adanya memang seperti itu. Karakternya santai,” jawab Muhamad Ziyan Al-Faikar, salah satu anggota Himmah RAM, dalam sesi wawancara eksklusif. Dalam debat kandidat itu, tampak pula suasana yang dibangun adalah ruang diskusi antar calon, alih-alih adu gagasan dalam memikirkan keberlangsungan Himmah RAM setahun mendatang. 

Beragam inovasi dan mitigasi yang disampaikan kerap kali mengundang sorak-sorai anggota. Salah satunya seperti yang disampaikan Miftah Huda Pratama dalam segmen pertanyaan antara panelis dan para calon terkait pemberdayaan mahasiswa baru (maba).

“Kita tidak bisa memperhatikan Maba 24 jam. Solusi yang saya tawarkan mungkin bisa dengan menunjuk musyrif di setiap rumah untuk memudahkan monitoring,” yang kemudian diafirmasi oleh Achmad Idris. Pun demikian yang disampaikan oleh Muhammad Husni Zauhari dalam segmen pertanyaan antara panelis dan para calon terkait ruang sosial.
“Jika menemui kesulitan dalam memitigasi permasalahan, langkah yang setidaknya-tidaknya harus diambil adalah mempertahankan kultur lama yang telah berjalan baik,” yang kemudian diafirmasi oleh Miftah Huda Pratama.

Dari setiap gagasan yang diperdengarkan, kita dapat melihat bahwa perhatian mereka tidak pernah luput dari harapan kebaikan untuk Himmah RAM ke depannya. Siapa pun yang akan meneruskan estafet kepemimpinan nanti, tumbuh dan berkembangnya Himmah RAM adalah alasan dan prioritas utamanya.

Redaktur: Ichsanul Amal Muhajir A.
Editor: Zadjuria Rizky 



Posting Komentar

To Top