Di Bawah Senja Tub Ramly Kami Mengkaji Esai


“Materi yang akan aku sampaikan hari ini, tidak akan disebar di grup. Ini materi eksklusif, khusus untuk menghormati kalian yang sudah menyempatkan datang,” goda Reza Mufarid, Pemateri Upgrading Kepenulisan Himmatuna, sore itu.

Kalimat di atas dia lontarkan kepada segenap kru Himmatuna sebelum memaparkan materinya yang bertajuk “Kiat Menulis Esai dan Cara “Menyihir” Pembaca. Sore itu, saya kira, kata “menyihir” yang dia sematkan dalam judul hanya hiasan kalimat belaka. Nyatanya, dia berhasil membuat kata itu menjadi ‘nyawa’ dalam agenda pembekalan kemarin. Saya rasa, dia berhasil menyihir kami—setidaknya selama kurang lebih dua jam—untuk tetap asyik mendengarkan dan hanyut dalam pembawaannya.

Di bawah ketenteraman senja Tub Ramly yang sentosa, kami melingkar, belajar cara menulis esai bersama-sama. Sekretariat Himmah RAM yang temaram kala itu membuat kami khusyuk mendengarkan materi eksklusif yang dibawakan Mas Reza—begitulah kami akrab menyapanya. Lamat-lamat suara girang bocah Mesir yang sedang bermain bola tidak mengganggu kekhusyukan kami. Malahan, suara itu menambah kesyahduan suasana saat itu. Dengan suasana yang guyub, materi berbobot dari Mas Reza terasa ringan dimengerti, alih-alih terbebani.

Sejatinya, isi materi yang dibawakan Mas Reza tidak jauh berbeda dengan materi-materi esai pada umumnya. Alasan pentingnya menulis esai, cara membuat judul, jenis-jenis paragraf pembuka (lead) dan teori tell and show adalah beberapa isi materinya. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda, yaitu mempraktikkan materi yang telah disampaikan secara langsung di tempat. “Enggak harus bagus, kok, Gess. Di sini, kita sama-sama belajar. Dan aku hanya ingin membuktikan bahwa semua dari kalian memiliki keunikan masing-masing,” godanya (lagi) kepada kami.

Mendapat tantangan itu, saya—dan saya rasa juga yang lain—bersemangat. Kami segera mengambil gawai masing-masing; segera mengerjakan tugas membuat kalimat atau paragraf yang telah diberikan. Tugasnya sederhana, yaitu “meng-show-kan” kalimat “tell” yang sudah disiapkan oleh Mas Reza. Misal, kalimat tell-nya adalah “Kota itu sangat bising”. Maka, tugas kami adalah membuat kalimat yang menunjukkan dan menggambarkan suasana kebisingan sebuah kota. 

Dalam tugas membuat kalimat show dari “Kota itu sangat bising” ini, jawaban rekan-rekan Himmatuna bervariatif. Sebagian menggambarkan kebisingan itu dengan gonggongan anjing, sentakan Ammu Tremco atau desing laju kereta. Sebagian yang lain menunjukkannya dengan “mini sound horeg” di Tuk-Tuk, adu mulut pribumi dan tentu saja bunyi klakson yang tiada henti. 

Jawaban yang variatif itu juga terjadi di tema-tema selanjutnya. Saat kami disuruh menggambarkan kalimat “Aku sedang membaca”, misalnya, Said As’ad—Pemred Himmatuna tahun lalu—mengolah kalimat itu menjadi: “Berdiri dan memandang luasnya lautan, penuh tanya, dan hanya mampu menerka saja. Tuhan, ini arahnya ke mana?” Bagi saya, kalimat yang dipilih Said ini anti-mainstream! Saat yang lain menggambarkan kalimat “Aku sedang membaca” dengan proses membaca buku, dia memilih mengungkapkannya dengan membaca alam. Jenius!

Selesai dari tugas “meng-showkan” satu kalimat, tantangan berlanjut. Oleh Mas Reza, kami ditantang membuat judul. Temanya bebas. Mau membahas isu keseharian, ke-Masisir-an, keluarga di kampung atau politik nasional, terserah. Syaratnya hanya satu, yaitu mengikuti panduan yang telah telah dijelaskan panjang lebar sebelumnya. 

Dari tantangan ini, muncul beraneka ragam judul. Dari yang bernuansa atheis milik Erdin (“Apakah Agama itu Ada?”), bertema kerinduan milik Lutfi (“Ketika Suara Ibu tak Lagi Sama”), ke-Masisiran milik Arnis (“Masisir yang Semakin Gila”), modernitas milik Hilya (“Ketika Manusia Tergeser oleh Kecerdasan Buatan”), politik nasional milik Zadju (“Indonesia di Genggaman si Gemoy”), rekfeltif milik Bassam (“Mengejar Memori yang Tiada”), dan curahan hati milik Sa’id (“Jalannya Tak Lagi Sama”). 

Di titik ini, saya baru menyadari bahwa metode praktik langsung semacam ini ternyata begitu asyik. Dari metode ini, pemahaman kami akan materi yang telah dijelaskan langsung diuji. Kemampuan menulis kami juga bisa langsung diukur. Dalam waktu yang terbatas, kami dituntut membuat judul, kalimat, dan paragraf. Sekilas, kami memang merasa tertekan dan terpaksa. Namun, bukankah kadang kita butuh tekanan untuk menghasilkan suatu karya? Bukankah kadang kita butuh keterpaksaan agar terbiasa dan kemudian menjadi bisa?

Selama kurang lebih dua jam terlibat langsung dalam upgrading kepenulisan kemarin, cukup banyak pelajaran baru yang bisa saya bawa pulang. Salah satunya, menurut Mas Reza menulis esai adalah salah satu medium untuk menemukan karakter diri. Tentunya, masih banyak hal baru lainnya yang kami dapat dari agenda ini untuk menjadi bekal saat sistem kepenulisan Himmatuna dimulai bulan depan.

Upgrading kepenulisan Himmatuna masih tersisa satu pertemuan lagi. Sore ini, materi Sastra dan Warta sudah menanti. Sore ini, Zadjuria Rizky dan Salsadilla Musrianti—editor Himmatuna seperti Mas Reza—akan menambah bekal para kru. Apakah materi yang akan dibawakan juga eksklusif seperti milik Mas Reza, saya belum tahu. Mari kita lihat sore nanti. Namun yang pasti, akan ada pelajaran baru yang bisa dibawa pulang. Pasti!

Oleh : Maspud Aripin

Posting Komentar

To Top